Magister Pendidikan Sains Untad Perkuat Komitmen Integrasi Teknologi dalam Seminar Nasional

Palu, 18 Juni 2026 – Suasana akademik yang hangat namun penuh semangat inovasi mewarnai ruang virtual Seminar Nasional Pendidikan IPA yang digelar oleh Program Studi S2 Pendidikan IPA Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Kamis siang. Di balik layar, puluhan peserta dari berbagai daerah menyambut antusias tema besar yang diusung: “Smart Science Education: Integrasi Teknologi Digital untuk Pembelajaran IPA Berkelanjutan.”

Di antara deretan peserta yang tampak hadir dalam ruang Zoom, satu nama menarik perhatian: Program Magister Pendidikan Sains Universitas Tadulako. Bukan sekadar hadir, keikutsertaan ini menjadi momentum strategis bagi delegasi Untad yang juga merupakan bagian aktif dari Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia (PPII) Wilayah Sulawesi Tengah. Mereka tidak hanya menyimak, tetapi juga membawa semangat kolaborasi lintas wilayah untuk memajukan kualitas pengajaran sains di tanah air.


Pembuka dari Direktur Pascasarjana UPGRIS

Tepat pukul 13.00 WIB, acara dibuka dengan opening speech yang menginspirasi dari Prof. Dr. Harijto, M.Hum, Direktur Pascasarjana UPGRIS. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa pendidikan IPA di era disruptif tidak bisa lagi mengabaikan kecakapan digital. “Guru sains hari ini harus menjadi arsitek pembelajaran yang mampu menyelaraskan konten ilmiah dengan alat-alat digital, agar siswa tidak hanya paham konsep, tetapi juga terlatih berpikir kritis dan adaptif terhadap perubahan,” ujarnya.

Beliau juga menyambut baik partisipasi dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Tadulako, sebagai bentuk sinergi keilmuan yang sangat dibutuhkan di tengah tantangan pendidikan abad ke-21.


Paparan Pembicara: Dari Konsep hingga Praktik

Memasuki sesi inti, dua pembicara utama membawakan materi yang saling melengkapi.

Prof. Eko Haryono, M.Pd, Guru Besar Pendidikan Sains dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), membuka diskusi dengan perspektif filosofis dan pedagogis. Beliau memaparkan bagaimana kerangka smart science education tidak hanya berhenti pada penggunaan gawai atau aplikasi, melainkan pada perubahan paradigma guru sebagai fasilitator yang mampu merancang pengalaman belajar berbasis data dan simulasi interaktif. “Teknologi hanyalah alat, tetapi jika dirancang dengan pendekatan berkelanjutan, ia mampu menumbuhkan literasi sains dan kesadaran lingkungan secara bersamaan,” jelas Prof. Eko.

Sesi dilanjutkan oleh Dr. Joko Siswanto, M.Pd, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UPGRIS. Dengan gaya yang aplikatif, beliau membagikan hasil riset dan praktik baik tentang pemanfaatan platform digital murah meriah untuk pembelajaran IPA di daerah dengan keterbatasan akses. Dr. Joko juga menyoroti pentingnya evaluasi autentik berbasis proyek digital, serta memberikan contoh konkret penggunaan simulasi virtual laboratorium yang dapat diakses secara gratis. “Keterjangkauan teknologi adalah kunci keberlanjutan. Kita harus pintar memilih yang tepat guna, bukan yang tercanggih,” tegasnya.


Antusiasme Delegasi Untad dan PPII Sulteng

Di tengah sesi tanya jawab yang interaktif, perwakilan dari Magister Pendidikan Sains Universitas Tadulako tampak aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman lapangan. Mereka mengungkapkan bahwa tantangan di Sulawesi Tengah—dengan geografi kepulauan dan beragamnya akses internet—justru menjadi lahan subur untuk menguji model-model integrasi teknologi yang adaptif.

Salah satu peserta dari Untad menyampaikan, “Kami di PPII Wilayah Sulteng sedang menginisiasi gerakan ‘Sains Bergerak’ yang memanfaatkan modul digital offline dan video pembelajaran interaktif. Seminar ini memberi kami penguatan teoretis dan juga koneksi dengan para pakar, sehingga kami bisa menyempurnakan program tersebut.”

Diskusi berlangsung dinamis hingga pukul 15.00 WIB. Meskipun berlangsung secara daring, tidak ada jeda antusiasme. Peserta saling bertukar kontak dan berjanji untuk melanjutkan kolaborasi dalam penelitian maupun pengabdian masyarakat.


Penutup: Jejak Kolaborasi untuk Masa Depan

Seminar ditutup dengan kesimpulan dari moderator bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan IPA bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan menuju pembelajaran yang lebih manusiawi, kontekstual, dan berkelanjutan. Kehadiran Magister Pendidikan Sains Universitas Tadulako sebagai bagian dari PPII Sulteng menjadi bukti bahwa semangat peningkatan mutu pendidikan tidak mengenal batas wilayah.

Dengan mengusung pengalaman dan wawasan baru dari seminar ini, para peserta dari Palu bertekad untuk menjadi agen perubahan di daerah masing-masing. Seperti pesan penutup dari Prof. Eko, “Masa depan sains ada di tangan guru yang berani berubah. Dan perubahan itu dimulai dari hari ini, dari ruang virtual sekalipun.”

Post Terkait